Alhamdulillah saya kembali berkesempatan untuk cuap-cuap di blog tercinta ini :) Mohon maaf karena untuk postingan pertama di tahun 1435 Hijriyah ini isinya lagi-lagi berupa narasi panjang ketimbang produktivitas penulisan karya-karya sastra seperti dulu--yang mana sepertinya banyak disangka sebagai bentuk curahan kegalauan (padahal saya nggak galau ko, bahasanya saja yang hiperbolik hehe)--tapi semoga yang akan saya tuliskan berikut bisa bermanfaat bukan hanya untuk diri saya sendiri tapi juga untuk para pembaca sekalian (kalau memang ada yang membaca heheh^^"), khususnya para muslimah :D Bisa juga sih untuk para lelaki yang sering dimarahi istri dengan tuntutan untuk lebih bisa membaca perasaan, karena wanita ingin dimengerti~ *apasih*
Warning: Berbahasa lebay dan sangat panjang, as usual. I can't help it, I just love writing to the core :")
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Islam sangat memuliakan eksistensi perempuan, bukan begitu? Sebelum Islam (dari Nabi Saw.) datang, betapa kejamnya perlakuan kaum jahiliyah zaman dahulu terhadap perempuan.......bayangkan, kelahiran bayi perempuan dianggap mengecewakan sehingga mereka dikubur hidup-hidup, wanita dipandang sebagai "benda" yang boleh disakiti dan dipermainkan sesuka hati...laknat banget. Nggak kebayang kan apa jadinya dunia saat ini jika Islam tak pernah hadir :" Mahabesar dan Mahaadil Allaah yang secara gamblang telah mengfirmankan mengenai kejahatan kaum jahiliyah terhadap perempuan tersebut dalam surat An-Nahl ayat 58-59 yang artinya,
“Apabila salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, menjadi merah padamlah wajahnya dalam keadaan ia menahan amarah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena buruknya berita yang disampaikan kepadanya. (Ia berpikir) apakah ia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya hidup-hidup di dalam tanah? Ketahuilah alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.”
Nabi Saw. pun bersabda tentang bagaimana seharusnya perempuan diperlakukan,
"Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk, sementara yang paling bengkok itu bagian teratasnya. Jika engkau bersikeras meluruskannya, ia akan patah. Tetapi jika engkau membiarkannya, ia akan bengkok selamanya. Maka nasihatilah perempuan dengan cara yang baik." (HR Bukhari, Muslim, Ibnu Abi Syaibah, dan Baihaqi).
Teman-teman sesama perempuanku, maka nikmat Allaah yang mana lagi yang kita dustakan? Betapa Allaah dan rasulNya memuliakan kita sementara seringkali kita dengan congkaknya merasakan ketidakadilan, seperti "Kenapa laki-laki bebas banget main ke mana-mana?," "Kenapa wanita seringkali hanya dipandang sebagai objek pemuas hawa nafsu?", "Kenapa wanita sering diremehkan jika ingin maju sebagai pemimpin?", sehingga "Ayo, kita harus menuntut kesetaraan gender!", dst...
Sebagai contoh nyata, mari kita tengok beberapa potong adegan nyata (baca: curhatan) dari episode kehidupan saya berikut...
Saya: "Pa, Kakak sama grup mentor Desember nanti pingin ke Tidung. Kan katanya temen Papa punya penginapan di situ. Tolong booking-in dong, Pa."
Papa: *muka mesem* "Ngapain? Jauh."
Saya: "Ya temen-temen pada pingin ke pantai."
Papa: "Udahlah, Kakak kenapa sih sekarang pikirannya jadi pingin ke luar terus? Coba belajar mencintai rumah. Apa yang sudah Kakak lakukan di rumah? Udah ngapain di dapur?"
Saya: (dalam hati: Dang! Lupa banget, aku kan emang dari jaman kapan juga susah banget dapet perizinan pergi jauh dari Papa-_-) "Yaudah, Kakak bilang ke temen-temen ga boleh ya.."
Dulu study tour kelas 11 ke Bali-Bromo pun saya nggak dibolehin ikut loh, tapi ajaibnya waktu study tour kelas 10 Jogja alhamdulillah boleh. Yaudahlah ya. Tapi kebanyakan acara bepergian dan menginap-inap saya lebih sering nggak dibolehinnya. Makanya perpisahan kelas 11 pun jadi di rumah keluarga yang terletak di Sukabumi karena saking nggak bolehnya saya nginep di tempat lain sekalipun itu di Puncak yang padahal lebih dekat dari Depok. Waktu kelas 12, saya harus memilih antara ikut perpisahan kelas atau tafakur alam Smansa karena keduanya sama-sama ada agenda menginap. Akhirnya saya memilih perpisahan kelas 12 yang ternyata akhirnya cuma makan-makan di Depok hahaha asem-___-
Sementara adik saya yang laki-laki--yang usianya cuma beda 1,5 tahun sama saya itu..mau ke manapun, nginep dimanapun, nggak pernah dilarang selama waktunya nggak bentrok dengan acara keluarga. Dia juga boleh beberapa kali menginap di rumah temannya. Kalau saya sih sampai kapanpun juga nggak akan dapat restu untuk menginap di rumah teman. Lebih baik pulang dan dijemput walaupun itu malam-malam asal jangan sampai menginap; peraturan orang tua untuk saya.
Beranjak ke kehidupan kemahasiswaan saya. Sangat amat terlalu wajar sekali kan yah jika mahasiswa pulang malam hari dari kampus walaupun kuliah pagi? Apalagi bagi mahasiswa PP yang rumahnya jauh dari kampus. Alhamdulillah meskipun rumah saya dekat dari kampus, tetap saja banyak kondisi yang mengharuskan saya pulang lewat dari maghrib, seperti mengerjakan tugas kelompok, rapat kepanitiaan atau organisasi, dll~itu biasa banget yakan yakan yakan? Pernah saya satu kali, hanya satu kali banget loh, saya pulang dari kampus sekitar jam 9 malam (bagi para aktivis kampus sejati jam segitu sih pasti masih berasa "pagi") karena ada rapat kepanitiaan. Begitu saya sampai rumah, prokprokwush habislah saya menjadi butiran debu yang terhempas oleh badai omelan kasih sayang Papa. Sejak saat itu saya sangat merasakan bahwa setiap saya pulang dari kampus lewat maghrib dan Papa saya sudah ada di rumah, tampang beliau sudah tidak asik lagi hehehe.
Kalau dipikir-pikir, kenapa Papa saya sampai sebegitunya? Kenapa sikap Papa saya perihal keluar rumah terhadap saya dan adik saya yang laki-laki sangat berbeda? Terkesan otoriter kah? Padahal banyak sekali teman-teman akhwat saya yang kerudungnya lebih panjang daripada saya, lebih lembut, feminin, dan keibuan daripada saya (diasumsikan setidaknya lebih dilindungi orang tua mereka), tapi bebas menginap di rumah teman akhwat sana-sini, pulang larut malam tidak dimarahi orang tua selama memberi kabar (saya sudah memberi kabar pun tetap dimarahi-_-), boleh berkuliah di tempat yang jauuuhh dari rumah...dan toh, mereka bukannya lantas lupa dengan tugas mereka sebagai penghuni dapur masa depan. Mereka justru lebih potensial dan berikhtiar dalam menjadi ibu rumah tangga daripada saya (menurut saya sih hehe) sementara kegiatan organisasi mereka yang sedemikian padatnya mengharuskan mereka sering pulang larut malam atau hanya ada waktu bebas di malam hari sampai liqo pun dilakukan di malam hari, seperti para ikhwan saja.
Pernah saya berpikir, mungkinkah karena orang tua mereka juga dulunya aktivis makanya mereka sangat memaklumi kondisi tersebut, sementara orang tua saya yang latar belakangnya jauh dari minat politik maupun kegiatan aktivis di masa muda berpandangan sebaliknya? Jujur saja, dulu saya sendiri merasa tidak dipercaya oleh orang tua saya hanya karena saya perempuan. Alhamdulillah Papa saya menjelaskan kepada saya, bukan karena beliau tidak percaya pada saya atau menganggap saya sebagai anak kecil. Sebelumnya, tengok dulu hadits berikut.
Dari Ibnu Abbas; Nabi Saw. bersabda:
“Tidak boleh seorang wanita bepergian jauh kecuali bersama muhrimnya, dan janganlah seorang laki-laki bersama dengan wanita kecuali wanita tersebut bersama muhrimnya.” Seorang sahabat bertanya: Ya Rasulullah, saya ingin ikut pada suatu peperangan, sedangkan istriku ingin menunaikan ibadah haji. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Pergilah bersamanya (menunaikan ibadah haji).” (Sahih Bukhari)
Papa menuturkan bahwa beliau hanya mengikuti ajaran Nabi Saw. untuk melindungi wanita, terlebih karena beliau adalah kepala keluarga, imam keluarga, yang bertanggung jawab untuk menaungi semua anggota keluarga, khususnya istri dan anak-anak perempuan beliau. Papa mengingatkan saya bahwa pada fitrahnya, tugas perempuan yang utama adalah kecintaan untuk menjaga rumah tangga, bagaimana kelak menjadi istri yang berbakti kepada suami serta ibu yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Tugas wanita tersebut bukan membuat wanita lantas jadi berbeda kasta dengan para lelaki. Justru karena itulah, wanita dimuliakan dan mendapat kedudukan yang spesial. Buktinya? Simak sabda-sabda Nabi Saw. berikut:
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah ke dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
“Saling berpesanlah untuk berbuat baik pada perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok.”(HR. Tirmidzi dll).
Begitulah. Tanpa kita perlu menuntut kesetaraan pun, Islam sejak awal telah sangat memuliakan dan melindungi kita semua, Ukhti-ukhti sekalian:) Bukan karena kita dipandang lemah, bukan karena kita dikira tidak bisa mandiri, bukan karena kita ujung-ujungnya-hanya-akan-jadi-penghuni-dapur, tapi karena kita istimewa. Kita, para wanita, tercipta dari tulang rusuk--tulang yang dekat dengan hati. Dekat dengan hati karena berfungsi sebagai penjaga hati yang juga dicintai sepenuh hati:) Allaahu Akbar, gakuaaattt :")) *abaikan*
Tunggu. Kalau memang Islam sangat melindungi wanita, bagaimana kita bisa menjelaskan tentang gundukan kasus pemerkaosan dan pembunuhan terhadap banyak wanita "tak bersalah" di seluruh pelosok dunia? Jangan lupa, wanita sendiri tetap punya satu tanggung jawab utama untuk menjaga dirinya sendiri dengan cara yang tentunya telah diajarkan dalam Islam: menutup aurat dengan syar'i--bukan hanya "aurat" dalam berpakaian, tapi juga cara berperilaku dan bersosialisasi. Merasa terlahir sebagai wanita yang notabenenya dimuliakan oleh Islam, tapi shalat fardu masih bolong-bolong? Masih ada pikiran untuk menghijabi hati dulu baru hijab pakaian? Sudah berkerudung tapi pakaiannya masih membentuk lekuk tubuh? Masih main rangkul sana rangkul sini sama macam-macam teman laki-laki dengan argumen toh-nggak-ada-rasa-apapun-ini?
Ukhti, kita memang istimewa, in syaa Allaah, tapi jika perilaku kita semakin menjauhi fitrah seorang muslimah, bukan lagi Allaah yang akan memuliakan, melainkan syaitan. Nabi Saw. bersabda,
“Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka jika ia keluar rumah setan akan memuliakannya, dan tempat yang paling dekat bagi wanita dari wajah Tuhannya adalah ketika ia di dalam rumahnya.” (Sahih Ibnu Khuzaimah)
Sudah barang tentu, sebaik-baik wanita yang dimuliakan oleh Allaah adalah yang disebutkan dalam sabda Nabi Saw. ini:
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” (HR. Muslim no. 1467)
Sebenarnya masih buanyak sekali all about kemuliaan wanita dalam Islam, tapi berhubung ilmu dan waktu saya juga masih sangat ala kadarnya, mohon maklum ya. Bagi muslim dan muslimah yang masih haus ilmu yang lebih dalam, silakan cari referensi dari berbagai sumber yang lebih lengkap; baik itu dari buku maupun internet, sangat berlimpah ruah di mana-mana ko:)
Mohon maaf atas segala kekurangan. Jika ada hal yang dirasa menggurui, salah, sesat, atau semacamnya, silakan langsung angkat bicara saja. In syaa Allaah saya terbuka dalam menerima kritik dan saran. Terima kasih^^ Semangat untuk para wanita, Allaahu Akbar!!
-Syaninta
Sumber gambar: www.uniknih.com