Assalaamu'alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh.
Alhamdulillaah, senang sekali bisa kembali bercengkrama seorang diri di Blogger kesayangan ini :) Sudah sangat lama laptop saya menolak koneksi internet (sejak masa-masa UAS semester ganjil lalu loh:") dan jauh sebelumnya Blogger saya sempat mengalami gangguan sehingga saya sempat memutuskan untuk berpindah ke Tumblr (tapi gagal karena disabilitas koneksi internet di laptop tadi). Jadi tidak lebay kan kalau saya mengakui kerinduan saya pada blog saya yang satu ini? Saya hanya sempat menulis puisi tiga kali di note Facebook via handphone--itupun sekadar bentuk defense mechanism atas berbagai macam kegalauan saya saat itu;p Singkat cerita, sudah hampir separuh lebih dari libur semester saya kali ini terasa kering kerontang dari produktivitas menulis. Tapi alhamdulillaah, atas izin Allaah Yang Maha Pemurah, akhirnya saya berkesempatan untuk menulis sebanyak-banyaknya mulai hari ini^^
Maaf ya kebanyakan curhat, you know lah how girls are (alesan--a).
Saya merasa perlu menegaskan bahwa betapapun saya seringkali sok-sok menyebut hobi menulis saya sebagai suatu "produktivitas", jujur saja, secara keseluruhan tulisan yang saya buat semata-mata merupakan pemuasan passion saya sendiri, bukan untuk menginspirasi orang lain. Memang ada beberapa dari gundukan tulisan saya yang niatkan sebagai fasilitas untuk berbagi ilmu (jika bahkan memang pantas disebut sebagai ilmu) yang saya pahami dan pengalaman yang saya anggap harus diceritakan kepada orang banyak. Akan tetapi, saya tidak segan untuk mengakui bahwa saya masih terlalu rendah diri (saya akui sifat rendah diri ini adalah salah satu keburukan saya sejak kecil) untuk meniatkan produksi penumpahan isi otak saya sebagai bentuk inspirasi bagi orang lain. Saya hanyalah orang awam yang malas banyak berlisan secara vokal dan cenderung selalu sulit menemukan kecocokkan dengan orang yang banyak bicara (talkative). Namun ketika kesepuluh jemari ini dihadapkan pada lembaran putih--baik yang terjamah oleh pena maupun tidak--Anda bisa lihat sendiri, betapa panjang lebarnya satu kalimat saja yang bisa saya elaborasikan secara tulisan. Satu kalimat sama seperti satu paragraf, which means, ineffective. -_-
My point is, I simply love writing, that's all. Suka menulis, bukan menginspirasi. Jangan ada ekspektasi yang muluk pada seseorang yang hanya cinta menulis, oke? Ah, bisa saja saya sepik-sepik menuliskan hal-hal keren yang menginspirasi dari berbagai sumber atau bahkan berdasarkan pengetahuan dalam otak saya sendiri. Tapi selama saya sendiri belum melakukan hal-hal keren itu secara konkret, apalah arti dari tulisan penuh inspirasi itu sendiri. Ingat firman Allaah Swt. dalam Al Qur'an:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” [QS. Ash-Shaff : 2].
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” [QS. Al-Baqarah : 44].
Apakah prinsip saya untuk tidak menginspirasi ini terkesan egois? Bagaimana, ya...saya memang kurang nasionalis karena cenderung tidak sreg dengan budaya Indonesia yang sangat menjunjung tinggi konformitas. Saat kebanyakan orang tidak segan-segan menulis karena ingin melampiaskan luapan perasaan, orang lain pun takkan merasa malu untuk menulis sebagai sarana curhat (contoh, era curhat di Friendster dan awal mula Facebook). Ketika kebanyakan orang menulis karena ingin menjadi inspirasi, akhirnya orang lain pun ikut menulis dengan keinginan yang sama. Saya bilang "kebanyakan", bukan semua orang (untuk menunjukkan bahwa hal ini adalah salah satu contoh dari sekian banyak penerapan konformitas bangsa Indonesia).
Tidak, saya tidak mengatakan bahwa hal tersebut adalah suatu kesalahan. Sangat amat baik sekali malah. Menginspirasi orang untuk berbuat kebaikan tentu sangat positif, bukan? But in my case, saya memang masih terlalu pengecut untuk mencoba menginspirasi; tapi sebisa mungkin saya usahakan bahwa apapun yang saya tulis bisa bermanfaat setidaknya bagi diri saya sendiri. Ketika saya merasa puas dengan tulisan saya, misalnya "wah ada kemajuan, tulisan saya yang ini lebih bagus diksi dan tata bahasanya dibandingkan tulisan sebelumnya"...itupun sudah saya anggap bermanfaat bagi diri sendiri. Jadi waktu yang saya habiskan untuk menulis tidak terasa sia-sia.
Ya, saya tahu kok, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Jadi saya in syaa Allaah tetap berpijak pada proses kebermanfaatan (yang dimulai dari diri sendiri hingga menapak teritorial kemaslahatan yang lebih luas) dalam kegiatan menulis saya. In other words, saya ikhtiarkan agar tulisan saya tidak stagnan dalam kebermanfaatan untuk diri sendiri saja. Mungkin suatu hari nanti, hehe... *dikemplang*
Kecintaan saya yang sederhana terhadap bidang sastra sejauh ini masih belum saya niatkan untuk beralih fungsi menjadi sumber inspirasi. Saya tetap menulis dan akan selalu (sekadar) menulis selama cinta ini masih tumbuh segar hingga mengerubungi inti sel dalam kepala.
-Syaninta
This is dummy text. It is not meant to be read. Accordingly, it is difficult to figure out when to end it. But then, this is dummy text. It is not meant to be read. Period.