Di saat saya seharusnya sedang mengepel teras rumah, entah mengapa saya malah kepikiran untuk berjumawa berbagi mengenai kebahagiaan saya yang masih anget-anget kuku pada 21 dan 22 Januari 2015 di blog ini hehe. Saking bahagianya saya jadi merasa kemaruk (?) jika hanya menyimpan kebahagiaan ini seorang diri. Well, mungkin bisa ditebak dengan amat sangat mudah bahwa sumber kebahagiaan saya sebagai anak muda norak yang baru merasakan serunya bahtera rumah tangga selama 6 bulan ya dia-dia itu-itu lagi. Maafkan. Sebelum Anda otomatis dengan jengkel berpandangan bahwa saya melakukan PDA (Public Display Affection, yang menurut khalayak ramai kerap dilakukan pasangan muda yang baru menikah tanpa toleransi terhadap kawan-kawan single) sebaiknya Anda segera tutup posting blog saya yang satu ini *senyumbayem*.
Semua bermula di saat saya menata ulang pikiran saya yang memutuskan untuk mengurungkan keinginan jalan-jalan ke suatu tempat di liburan semester ganjil ini. Yah...tentunya karena saya mengingat bahwa pekerjaan suami di kantor mengenal tanggal merah namun tidak liburan semester. Terlepas dari fakta tersebut, saya sendiri sebenarnya merasa malas pangkat sejuta juga setiap menyaksikan di televisi betapa ramainya semua tempat umum selama musim liburan sekolah. Walaupun kelihatannya orang-orang Jabodetabek menghabiskan liburan di Dufan, Monas, Puncak Pass, Taman Safari, Bandung, Yogyakarta, Bali, Arab Saudi, dan berbagai tempat wisata terdekat (?) lainnya, ternyata Margonda tetap saja menjadi lautan manusia sebagaimana tempat-tempat yang telah saya sebutkan tadi. So yeah, andaikata saya kekeuh ingin berlibur ke...luar rumah *sedihamat* sekalipun, tetap saja akan jauh dari rasa nyaman dan puas. Macet dan antre di mana-mana.
Kendati sudah berusaha melupakan angan-angan nggak penting untuk bisa jalan-jalan selama liburan--terutama sejak saya juga harus membatalkan rencana main ke masjid Puncak saat
weekdays--rasanya sayang jika saya tidak ada sesuatu yang berkesan selama liburan ini. Apalagi saat libur semester berikutnya
in syaa Allaah sudah tidak berdua lagi, tapi bertiga (hehe), jadi saya pikir libur semester ganjil ini adalah waktu luang terakhir *lebeh* untuk bisa pacaran ke luar kota berdua saja dengan suami. Akhirnya pada suatu hari, saya kembali mengajak suami saya jalan-jalan. Saya bilang ingin ke Kebun Binatang Ragunan. Suami mengiyakan.
"Pekan depan ya", ujarnya.
Huray!
Kebetulan, pekan depan sudah waktunya kontrol kehamilan. Biasanya setiap bulan saya rutin kontrol di RS Grha Permata Ibu Kukusan Depok dengan dr. Dewi. Awalnya setelah memastikan bahwa sang dokter pro IMD (Inisiasi Menyusui Dini) dan memang rumah sakit ini adalah yang terdekat dari rumah, suami sudah merasa oke-oke saja untuk bersalin di sini walau hati kecil beliau tidak sepenuhnya tertambat(?), mengingat bahwa rumah sakit biasanya cenderung kerap mengarahkan untuk SC dengan berbagai alasan dan BPJS pun hanya bisa digunakan untuk tindakan di luar persalinan normal. Namun suatu hari, teman suami saya yang istrinya baru saja melahirkan merekomendasikan Klinik Depok Jaya yang dikatakan dokter, harga, dan tempatnya sangat bersahabat. Di klinik ini ada dr.Nelwati, seorang dokter spesialis kandungan yang sudah sangat terkenal di Depok, laris manis lah pokoknya. Terlebih lagi, menurut suami saya, kalau di klinik pasti akan diusahakan untuk persalinan normal. Ya iyalah mana bisa SC di klinik -_-
Kemudian saya mencari berbagai informasi mengenai klinik ini maupun dokternya. Ternyata jika ingin kontrol dengan dokter yang akrab disapa dr.Nel ini, pasien harus
booking sehari sebelumnya. Saya juga menemukan di internet bahwa dr.Nel praktik di Klinik Depok Jaya hanya setiap Selasa jam 18.00 dan Kamis jam 08.00. Berhubung nomor telepon klinik ini--yang saya temukan di internet--entah mengapa tidak bisa dihubungi walau sudah dicoba berkali-kali, suami pun memutuskan agar kami saja yang langsung daftar ke klinik. Menyambung dari rencana untuk ke Kebun Binatang Ragunan, saya pun mengatakan pada suami bahwa kami akan ke sana hari Rabu setelah sebelumnya ke Klinik Depok Jaya untuk daftar kontrol kehamilan pada hari Kamis. Entah mengapa saat itu saya sudah merasa bahwa Rabu-Kamis tersebut akan menjadi hari yang sangat menyenangkan. Akhirnya bisa jalan-jalan bersama suami dan keesokan harinya melihat dedek bayi. Selasa malamnya saya berdo'a semoga cuaca esok cerah.
Alhamdulillah, Allaah Maha Mengabulkan. Rabu lalu sama sekali tidak turun hujan sejak pagi hingga sore tapi tidak panas terik juga. Jadi cuacanya sangat nyaman :)
Rabu, 21 Januari 2015
Saya dan suami berangkat dari rumah sekitar pukul 09.20 WIB. Berhubung kami belum pernah ke Klinik Depok Jaya, kami sempat kebingungan mencari lokasi klinik tersebut yang hanya disebutkan oleh teman suami terletak di arah setelah Smansa Depok sebelum Pasar Lama lalu masuk ke antara Jl. Mangga atau Rambutan sementara alamat yang ditunjukkan di internet adalah Jl. Rambutan saja. Karena kami hanya menemukan Jl. Mangga Raya, kami kemudian mencoba memilih masuk ke jalan tersebut dan terus berjalan lurus sembari tengok kanan tengok kiri. Awalnya suami hendak memutar balik karena belum menemukan tanda-tanda adanya klinik bersalin namun kemudian kami menemukan Jl. Rambutan di sebelah kiri yang juga memiliki plang "Klinik Depok Jaya".
Alhamdulillah belum sempat putar balik hehe... Masuklah kami ke klinik tersebut. Ternyata sepi sekali... Saya disambut dengan ramah oleh Mbak-mbak resepsionis. Jadi ada 3 dokter yang praktik di sana, yaitu dr.Nel, dr.Rizal, dan dr.Asmawinta. Mbaknya menjelaskan bahwa khusus dr.Nel hanya membatasi sebanyak 20 pasien dalam sehari dan harus
booking sehari sebelum kontrol. Saya meminta untuk daftar kontrol dengan dr.Nel dan mendapat nomor urut 10. Ceritanya saya merasa lega dan bersyukur
gitu karena saya tidak mendapat nomor belasan ke atas hehe...padahal ternyata keesokan harinya, saya adalah pasien dengan urutan kedua terakhir haha
which means that kebetulan Kamis itu pasien dr.Nel tidak sampai 20 orang. Yang jelas saya diminta datang pukul 08.00 tepat karena memang 10 pasien pertama harus datang pada waktu tersebut. Baiklah...
Setelah mendaftar di klinik, saya dan suami langsung menuju Kebun Binatang Ragunan. Kami sudah membawa bekal makan siang dan air putih dari rumah karena harga konsumsi di tempat wisata seperti itu pastinya di atas harga rata-rata~ Sesampainya di sana, langsung parkir mobil lalu terkejut juga, hari Rabu begini saja tempat parkir sudah dipenuhi dengan buanyak mobil dan motor. Ternyata begitu kami memasuki kawasan Kebun Binatang Ragunan, sepiiii sekali...kebanyakan pengunjung adalah ibu-ibu yang datang bersama ibu-ibu lain dan membawa balita atau bayi; serta pasangan-pasangan usia 20 tahun ke atas. Sepertinya ratusan kendaraan di tempat parkir tadi sebagian besar hanya menumpang parkir di tempat parkir Kebun Binatang Ragunan. Entahlah...
Saya dan suami masuk melalui pintu utara. Kami disambut oleh penampakan taman dan kolam yang dipenuhi banyak pelikan. Ternyata pelikan bisa terbang..... Tapi mereka tidak kabur kendati pagar kolam tersebut cukup pendek. Baru melihat pelikan saja saya sudah girang dan minta difoto oleh suami:) Berhubung tempatnya sedang sepi, kami tidak bisa meminta difoto lengkap dengan pemandangan utuh kolam pelikan oleh orang lain dan cukup
selfie saja hehe...
Sebelum kami melanjutkan perjalanan, kami mampir (?) dulu ke toilet terdekat. Oh ya, FYI nih ibu-ibu...saat hamil. frekuensi buang air kecil akan sangat meningkat. Cukup sering merasa anyang-anyang juga. Sebelumnya saya sudah khawatir juga jika saya beser di Ragunan nanti...selain akan menghambat perjalanan, sedih sekali jika harus dikit-dikit keluar 2000 perak untuk toilet T_T Namun ternyata alhamdulillah, setiap toilet yang disediakan di kawasan Kebun Binatang Ragunan gratis, bersih, menyediakan sandal jepit, dan ada sabun juga di wastafelnya loh *infopenting*. Tenteram sudah hatiku :") Mudah-mudahan bersih begini bukan hanya karena sedang sepi tempatnya, hehehe...
Kemudian saya dan suami bertemu gajah! Horee! Memang hewan yang paling ingin saya lihat adalah jerapah, gajah, singa jantan, dan beruang. Entah mengapa saya awalnya merasa bahwa gajah-gajah yang saya temui di sana tidak sebesar yang biasa saya saksikan melalui televisi. Namun ternyata setelah berjalan sedikit kami menemukan 2 ekor gajah yang berukuran lebih besar daripada gajah-gajah yang pertama saya lihat di kandang lain. Ada seekor gajah berjalan mendekati pagar (saya dan 2 pengunjung lain sedang berada di situ) lalu mencelupkan belalainya ke air selokan. Sontak seorang pengunjung di sebelah saya berkata, "hati-hati dia mau nyemprot!" sehingga kami langsung mundur menjauhi pagar. Ternyata...tidak. Krik krik krik
Ada juga gajah lain yang sebelah kakinya dirantai. Suara doi cukup menggelegar. Lalu ada juga gajah yang kelihatannya sedang hamil, caper ke pengunjung. Doi mengangkat belalainya dan mangap-mangap seperti minta makan. Suami saya langsung bersemangat untuk segera memotret saya dengan doi yang posenya masih mangap lebar itu. Berhubung di foto itu hanya ada saya sendiri (dengan si gajah mangap sebagai latar belakang) tanpa suami, jadi tidak saya post di sini ya hehe...
Selanjutnya, saya ingin melihat jerapah. Namun sayang sekali petugas Ragunan mengatakan bahwa tidak ada jerapah lagi di sana karena doi sudah terlalu sepuh dan telah menjadi almarhum. Berarti doi tidak beranak-pinak lagi ya. Sedih.... Padahal justru jerapah adalah satwa nomor satu yang paling ingin saya lihat :( Tapi alhamdulillah, saya dan suami masih berkesempatan untuk melihat banyak aneka fauna lain, seperti unggas-unggas lama (elang, merak, dan lain-lain), kelelawar, kucing hutan, musang luwak, burung unta, rusa tutul, kancil, iguana, monyet, kura-kura, rakun unyu, harimau, singa (walau hanya ketemu 2 ekor singa betina, itupun sedang tidur siang), orangutan, kuda nil, buaya, ular, dan beruang madu! Bulunya hitam dan sejauh mata memandang, mereka tidak kunjung mingkem. Kasihan, mangap terus seperti minta makan gitu...atau jangan-jangan mereka jadi pada lapar melihat banyak manusia yang menonton mereka......... Anyway, saya dan suami sempat selfie juga dengan seekor beruang madu menghiasi latar belakang.

Sebenarnya cukup banyak cerita mengenai petualangan saya dengan suami di Kebun Binatang Ragunan ini Rabu lalu. Namun karena dikhawatirkan akan terlalu panjang, saya skip saja. Pada intinya setelah kami selesai berjalan kaki mengelilingi kebun binatang ini, kami berangkat pulang sekitar pukul 2 siang lewat dan sampai rumah tepat saat adzan ashar. Saat perjalanan pulang, langit sudah sangat mendung. Tapi alhamdulillah hingga kami menapak lantai rumah, hujan belum turun. Pokoknya cuaca Rabu lalu selama saya dan suami jalan-jalan cihuy uhuy deh. Saya bahagia sekali sampai saya mengungkapkan hal tersebut kepada beliau. Beliaunya sih cool-cool saja responnya, "ya, alhamdulillah." Tapi saya merasakan seakan-akan baru pertama kali ini saya dan suami berwisata lumayan lama ke suatu tempat serta di saat kami sama-sama enjoy dengan tempat dan waktu tersebut. Kalau kata suami saya, lumayan tempatnya untuk nanti jalan-jalan bareng anak. Saya membayangkannya gempor juga sepertinya kalau jalan kaki keliling satu Ragunan seperti kemarin sembari bawa anak yang sudah bisa lari ke sana kemari, hehe... But it will be fun for sure! Semoga berikutnya saat ke Ragunan lagi bareng jagoan kecil kami, sudah ada jerapah baru yang tersedia di sana hehehe...
Special thanks untuk suamiku gantengku duniaku yang telah bersedia meluangkan waktu untuk pergi main ke tempat yang aku inginkan. Pokoknya aku seneeeng banget. Never been this happy before, so thank you so much, dearest husband :)
Berhubung saya sudah mulai pegal ngetik, sampai di sini dulu ya ceritanya. Bagian kedua dari posting blog ini in syaa Allaah mengenai kebahagiaan saya pada 22 Januari 2015 yang terutama disponsori oleh our baby boy :) Semoga sejauh ini ada moral value yang bisa dipetik *yekali* dari celotehan saya ini, hehe... See ya on the second part!
-Syaninta