Ini merupakan sebuah rahasia kecil. Hanya Tuhan, aku, dan piano tua ini.
Ya, jenius, ini untuk seorang gadis yang kusukai.
Aku hanya memainkan lagu ini di rumah saat Ayah dan Kakak sedang tidak berada di rumah. Walau belum tentu mereka akan menyadari bahwa lagu itu adalah lagu yang kubuat untuk seorang gadis...ya, bukan hanya karena aku termasuk lelaki yang secara alamiah memang bergengsi tinggi dan tidak rela terkuak rahasianya oleh siapapun termasuk keluarga. Aku hanya ingin memperdengarkan lagu ini untuk gadis itu.
Sial, jantungku refleks berdentum dengan gila setiap tersadar bahwa aku akan membawakan lagu ini untuknya setelah satu bulan lebih memendam partitur ini seorang diri. Padahal aku bahkan tidak membuat syair untuk lagu ini--ya, satu lagu penuh hanya dibanjiri abstraknya not balok. Aku terlalu malu untuk mengungkapkan semuanya dengan barisan huruf latin, kau tahu?
Lagipula, aku bukan bermaksud memintanya untuk menjadi...ya, kau tahu maksudku, seseorang yang lebih dari teman. Aku hanya ingin menyatakan bahwa ia lebih dari seorang murid privat bagiku dan kami bisa "berteman" akrab.
Cukup itu saja.
---
Seperti biasa, setiap hari Kamis tepat pukul empat sore aku datang ke rumahnya untuk mengajarinya piano klasik. Di sinilah aku sekarang, berdiri tepat di depan pintu rumah mungil dengan desain arsitektur Belanda ini dengan degup jantung yang lebih bising daripada biasanya. Aku menghela napas panjang sampai akhirnya menekan bel yang terpampang di sebelah pintu rumah tersebut. Seperti biasa pula, aku hanya perlu menunggu kurang lebih sepuluh detik hingga pintu terbuka dan mendapat sambutan singkat dari si penghuni rumah yang paling ingin kutemui, "Silakan masuk, Kakak Guru."
Ck. Senyum canggung itu, panggilan yang formal, sambutan yang sedemikian kaku setiap kami bertemu...aku telah bertekad, akan kuakhiri semuanya hari ini juga. Ya, dia memang pemalu dan kami tidak pernah membicarakan hal lain di luar musik meskipun aku telah mengajarinya piano secara privat selama dua tahun lebih. Dia adalah satu-satunya murid privatku yang tidak pernah satu kalipun mengatakan bahwa "belum sempat berlatih" setiap sesi seperti murid-murid privatku yang lain. Pada dasarnya kecerdasan musikal yang ia miliki tidak terlalu istimewa tapi aku tahu bahwa ia adalah seorang pekerja keras. Namun bukan itu yang membuatku menaruh hati padanya. Entahlah. Semua hanya berjalan dengan lambat tapi pasti.
"Kak, andante itu berarti tempo lambat, kan?"
Aku sedikit tersentak. Aku melamun agak terlalu larut rupanya, melihat bahwa ternyata aku dan dia saat ini tanpa sadar telah menduduki kursi grand piano di ruang tamu yang selalu kami pakai setiap kursus.
Aku meringis dan menjawab, "Sudah dua tahun lebih kamu belajar piano, masih saja menanyakan istilah tempo."
Aku melihat ia menunduk malu dan langsung bangkit dari kursi untuk merogoh rak buku kecil di atas papan pianonya seolah untuk menutupi kecanggungan. Apa mungkin aku terlalu sarkastik? Dan di hari saat aku hendak membawakan lagu buatanku untuknya. Bodoh.
"Rena, saya hanya bercanda." Aku berusaha untuk bersuara dengan sesantai mungkin. "Mau saya bawakan sebuah lagu sederhana yang bertempo andante?"
Ia terlihat agak keheranan. "Kakak Guru?"
"Lagu buatan saya sendiri, loh." Aku menelan ludah terlebih dahulu sebelum mengatakan hal barusan. "Kebetulan saya bawa partiturnya." Ya, maaf, aku merasa harus berbohong sedikit. Aku terlalu gugup.
Aku membuka penutup grand piano itu, meletakkan partitur milikku yang telah dipenuhi bekas lipatan, dan mengatur posisi tangan serta menegakkan tubuh. Well, here goes. Aku tak percaya pada akhirnya aku langsung melakukan ini bahkan saat baru saja tiba di rumahnya. Sebelumnya aku berencana untuk membawakan lagu ini setelah sesi kursus privat hari ini selesai.
"Maaf, Kakak Guru...apa nanti aku juga harus berlatih memainkan lagu itu?"
Duh, dasar anak polos. "Tidak. Saya hanya iseng...uhm...anggap saja sebagai intermezzo untuk sesi kali ini."
Ia pun kembali duduk di sebelahku. Aku mengalihkan pandanganku kepada partitur di hadapanku dan mulai menekan tuts secara perlahan.
Pelan, lamban, selaras dengan alunan tempo perenggutan proksimitas terhadap gadis pemalu di sampingku ini.
Rena, adik tiriku ini.
---
Maaf, diksinya sederhana dan mainstream banget -_-"
-Syaninta