Tentu tidak, kecuali Sang Peri Hujan bersedia menampakkan diri dan balas memberiku senyuman terbaiknya
Aku sadar betapa pengkhayalnya aku, betapa jauhnya aku dari realita orang dewasa pada umumnya.
Betapa aku tak tertolong lagi, betapa keras kepalanya aku dalam mempertahankan tendensi ini
Betapa lebarnya senyum yang merekah di wajahku kala merenungkan kebanggaan ini,
rasa syukur yang tak terhingga bahwa aku adalah seorang pemimpi. Akut.
Aku kembali memasuki singgasana pribadiku--yang sering kau sebut sebagai kamar tidur, barangkali...
Mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, bibirku melekukkan senyuman lagi.
Kau tahu, aku menempelkan mimpi-mimpiku di dinding singgasanaku dalam bentuk poster dan pigura
Kau akan dapati poster konstelasi, lukisan peri-peri dari krayon, karton bergambarkan peta kehidupan...
Memang mimpi-mimpi negeri dongeng, terlebih untuk seseorang yang tak lagi menginjak usia kanak-kanak.
Namun jika ada seorang pendengar yang cukup baik dalam toleransi, izinkan aku mengatakan,
di atas semuanya, aku ingin menjadi pribadi yang sepenuhnya mengenali serta menguasai diri sendiri.
Faedah untuk orang lain takkan secara optimal tersalurkan tanpa polesan kebaikan dalam diri, tentunya
Aku ingin mengendarai roket menuju rasi bintang impianku,
Aku ingin bertemu dengan Peri Gigi yang kedatangannya paling tak disangka di antara peri-peri lainnya,
Aku ingin membangun singgasana yang lebih besar bukan hanya untuk diriku sendiri,
dan aku ingin tahu lebih banyak tentangmu.
Kau, yang telah tanpa sengaja berekspansi ke dalam duniaku, menginjak ibu jari kaki kananku
Seolah-olah menyeringai--bukan mengingkari konten impianku, melainkan mengeksplorasinya. Ganjil.
"Kau boleh menulis sesukamu tapi kau tidak berhak memiliki penghapusnya"
---
I'll be there the moment you come out in white
Cause I'm on my way, on my way...
---
-Syaninta