Buried Treasures

Jenakanya diri kala tergidik oleh yang terpendam.

Menu
  • Home
  • Static Page
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Dropmenu
    • Dropmenu 1
    • Dropmenu 2
    • Dropmenu 3
    • Dropmenu 4
    • Dropmenu 5
  • Button
  • Error
  • Surprise Me
Uncategories Step by Step: A Rocky Road to Hijab Syar'i (Part 2 of 2)

Step by Step: A Rocky Road to Hijab Syar'i (Part 2 of 2)

Yay alhamdulillah akhirnya bisa blogging lagi, walaupun Rabu depan masih UAS satu matkul lagi sih......... Do'akan saya semoga saya sukses UAS dan lulus semua matkul dengan nilai-nilai + IPK terbaik ya by the way hehe^^

Sip, without further ado, ini dia kelanjutan kisah berjilbab saya, semoga bermanfaat, Allahumma aamiin:) Bagi yang baru mampir, sebaiknya baca dulu bagian pertama kisah ini di dua postingan sebelumnya. 

Bismillaahirrahmaanirrahiim. 

MASIH SMP - Alhamdulillah keinginan untuk melepas jilbab itu kandas sudah saat saya duduk di bangku kelas 2 SMP. Saya lupa mengapa dan bagaimana hehe. Saya sudah tidak peduli lagi dengan respon orang-orang dan saya merasa nyaman serta terjaga dengan berjilbab (walaupun saat itu cara saya menutup aurat masih sangat belum syar'i). Alhasil mulailah sok alim saya sejak saat itu, suka sok-sok dakwahin teman-teman dekat gitu deh ahaha padahal pengetahuan agamanya juga masih cetek-_- Jangan dicontoh ya teman-teman, dakwah itu harus ada ilmunya^^ Sampai ada teman dekat saya yang emoh cerita-cerita ke saya kalau dia punya pacar karena nggak enak sama saya yang notabenenya dulu pernah bilang ke teman-teman bahwa pacaran itu haram. Halah belagu lu Vi-_- Yaa pada intinya saya tetap berjilbab tapi......waktu zaman-zamannya booming ngalay ria di Friendster (huek) saya sempat looh pasang foto profil saya yang tidak berjilbab. Kalau saya ingat-ingat lagi, kenapa saya pernah melakukan itu ya? Alay banget-_- Oiya kalau tidak salah teman-teman saya yang sudah berjilbab juga ada yang melakukanya, oke semacam vicarious learning mungkin? Either way, memasang foto diri tanpa jilbab di socmed adalah SALAH BESAR, teman-teman. Jadi saat itu saya iseng pasang profile picture nggak pake jilbab, lalu langsung dikomenin sama kakak sepupu saya. Kurang lebih begini percakapannya:

H     : "Lepas jilbab?"
Saya: "Hah? Nggak kok, masih."
H     : "Kok itu fotonya nggak pake?"
Saya: "Hehe kan di dunia maya aja, aslinya nggak kok."
H     : "Ya tapi kan nanti cowok-cowok kayak gue jadi bisa lihat juga."

Lantas saya langsung mengganti foto profil itu. Alhamdulillah dengan secetek-ceteknya kereligiusan saya saat itu saya masih bisa nurut kalau dikasih nasihat-_- Jadi sejujurnya di masa kini, begitu saya duduk di bangku kuliah saya menemui cukup banyak teman-teman saya yang sudah lama berjilbab tapi masih memasang foto tidak berjilbabnya di social media--baik itu whatsapp, line, twitter, facebook, instagram, dan lain-lain--which makes me...err...yaaa...coba direnungkan sendiri apa esensinya. Saya tidak bisa memaksa:) Toh berjilbab bukanlah semacam simbol kereligiusan wanita, melainkan perintah Allah--ya, kewajiban--untuk kaum hawa selayaknya Allah memberikan perintah wajib sholat lima waktu. 

Saat kelas 3 SMP, saya pernah diajak pergi ke IPB oleh orang tua saya. Lalu kami sholat di masjid IPB dan setelah sholat saya iseng baca artikel-artikel yang ada di pakom masjid itu. Ada artikel tentang berjilbab dan di situlah, mulai saat itu--mulai saat itu banget, saya dengan noraknya baru saja mengetahui bahwa jilbab yang benar itu harus menutup dada (hingga saat itu jilbab saya masih bergo yang hanya sebatas menutupi kepala sampai leher ke bawah dikit). Dan ada dalilnya pula! Jelas saya tidak bisa berkelit lagi. Saya pun bertanya pada Mama, "Ma, jadi kalau pakai jilbab harus menutup dada ya?". Lalu Mama menjawab, "Emang". Saya ingat waktu itu saya berpikir, "Yaah, beneran harus nutup dada nih? Aakh kenapa sih".  Tapi berhubung saya sudah terlanjur (kesannya nggak ikhlas amat-_-) mengetahui kenyataan, mulai saat itu saya memakai jilbab--masih bergo--tapi alhamdulillah sudah menutup dada. Kalau ada teman saya yang hendak berjilbab selalu saya bawelin, "Kerudungnya harus nutupin dada ya". Maklum saya anak sulung banget, sejak kecil memang bawaannya tanpa sadar suka sok bossy. Jadi maaf ya kalau ada yang pernah merasa disuruh-suruh atau kebanyakan digurui sama saya-_- In syaa Allah maksud saya nggak buruk ko:") 

SMA - Nah ini dia masa-masa Renaissance perjilbaban saya yang sebenarnya. Memasuki kelas 1 SMA, waaa~adem sekali ternyata SMA saya, banyak banget cewek cantiknya (karena mayoritas berjilbab :D). Di masa-masa ospek SMA kan ada mentoring tuh, nah saya melihat Kakak mentor saya pakai manset. Dan setelah saya lihat, benar juga, kan sampai pergelangan tangan masih aurat. Tapi sepertinya saya tidak terlalu sadar bahwa perilaku memakai manset saya sejak kelas 1 SMA itu adalah indikasi dari modelling atau vicarious learning (maaf, mungkin hanya anak Psikologi yang paham maksud saya XP) karena tau-tau saya sudah memakai manset seiring berjalannya waktu. Alhasil banyak yang mengira saya anak Rohis; hanya karena sepasang manset-_- Padahal waktu kelas 1 SMA kerudung saya masih Paris dan TIDAK didobel, walaupun dulu Papa saya pernah bilang di rumah waktu saya sedang ritual berkerudung di depan meja rias, "Kak, kok tembus pandang banget sih" tapi kalau tidak salah saya hanya mesem-mesem layaknya orang yang masih sungkan menerima hidayah-_-

Hingga kelas 2 SMA pun saya masih suka pakai celana dan tidak berkaus kaki selain saat ke sekolah. Tapi mulai pertengahan kelas 2 SMA alhamdulillah saya mengakhiri pemakaian jilbab transparan saya dan beralih ke jilbab yang lebih tebal dan in syaa Allah tidak tembus pandang. Saya gembiraaa sekali saat Mama membelikan saya jilbab itu. Di hari pertama saya memakai jilbab yang lebih tebal itu saya mendapat sambutan cinta dari sahabat saya yang shalihah dan selamat dunia akhirat Aliefa Asyifa ({}) :*. Ini dia Ukhti yang dapat dikatakan paling berperan besar dalam proses pembelajaran saya menuju jilbab syar'i. 

Kelas 3 SMA, ah saya paling cinta dan rindu masa ini--masa-masa galau berkualitas (?) saya nih hehe. Lingkungan SMA saya yang padahal SMA negeri tapi bak sekolah madrasah kian mengakibatkan saya melakukan contagious behavior berupa cara menutup aurat yang syar'i dengan sangat gradual. Awalnya saya kerap memakai jilbab yang sangat tebal dan sejujurnya cukup gerah bahannya tiap ke sekolah hehe lalu saya menyadari teman-teman saya yang pengurus Rohis memakai jilbab Paris tapi tidak tembus pandang. Mengapa? Ternyata bisa didobel, rapi pula. Saya pun mulai belajar mendobel jilbab; awalnya waktu masih norak saya pakai peniti agak banyak karena takut dobelannya lepas. 

Alhamdulillah saya belajar dan belajar hingga menemukan bahwa ternyata pendobelan jilbab Paris ini sangat simpel, tanpa peniti pun jilbab Paris bisa didobel dengan rapi. Asli gampang kok nggak ribet, saya yang motorik halusnya super cupu ini saja alhamdulillah berhasil melakukannya:D Jadi yuk bagi para cewek pemakai jilbab Paris, mulai didobel jilbabnya. Jangan hanya dilipat segitiga yang pangkal-ujungnya ketemu dengan tujuan agar tidak terlalu transparan (padahal tetap tembus pandang loh, saking tipisnya bahan jilbab Paris sih), karena metode berjilbab semacam itu menghilangkan syarat jilbab syar'i lainnya, yakni menutup dada:) Memang lagi trend sih ya style berjilbab simpel seperti itu, tapi saya ingatkan saja, itu tidak syar'i, hehe. 

Kembali lagi ke saya. Masih kelas 3 SMA, saya melihat teman-teman bukan hanya berjilbab tebal, menutup dada, dan pakai manset, tapi juga selalu memakai kaus kaki dan rok. Suatu hari saya bertanya pada Aliefa Asyifa--yang biasa saya panggil Cipeh atau Cipcip:

Saya  : "Cip, kenapa ya kaki perempuan itu juga aurat?"
Cipcip: *mikir bentar* "Mungkin karena kaki perempuan itu indah?"

At any rate, saya mulai istiqomah memakai kaus kaki ke manapun saya pergi kelas 3 SMA. Saya juga tidak pernah lagi memakai celana kecuali saat berolahraga. Selain itu ada masa di mana saya memakai jilbab yang puanjang sampai melewati bagian perut kayak Umi-umi PKS hingga mendapat komentar dari teman-teman seangkatan saya dan adik kandung saya yang pertama. Kata adik kandung saya, "Panjang amat kerudung ente, perasaan dulu nggak sepanjang itu deh. Serius, diomongin sama temen-teman ane loh. Nggak usah terlalu aliran keras lah." 

Akhirnya saya berhenti memakai jilbab super panjang itu. Etapi bukan karena komentar orang-orang; karena saya sendiri lama-kelamaan merasa kurang nyaman saja dengan jilbab sepanjang itu hehe. Jadi prinsip menutup aurat saya hingga saat ini: jilbab yang menutup dada dan tidak transparan serta tanpa punuk unta, pakaian tidak ketat, pakai rok, terkadang (kalau sedang kepingin rajin hehe) pakai gamis, kalau lengan baju kurang panjang harus selalu pakai manset, dan pakai kaus kaki. Kelihatan ribet? Gerah? Saya rasa termasuk simpel, terlebih saya adalah manusia dengan golongan darah B yang malas untuk berkreasi (baca: tidak kreatif) dan cenderung sangat simpel dalam berbagai hal, jadi saya sangat nyaman dengan kriteria-kriteria berjilbab syar'i tersebut:) Mungkin pandangan saya ini terkesan subjektif dan persuasif tapi sesuai dengan kisah yang telah saya jabarkan mulai dari saya SD hingga saya saat ini, saya merasa telah menapak setiap anak tangga dalam metode menutup aurat--mulai dari masa di mana saya enggan berjilbab, malas berjilbab syar'i--hingga alhamdulillah saya merasa paling nyaman dengan cara berjilbab yang syar'i:) 

Tentu semua yang saya bagikan dalam dua postingan mengenai kisah saya dan jilbab tak lebih dari curhat-curhatness dan hasil penilaian terhadap pengalaman pribadi saya sendiri. Namun saya yakin, bukan tanpa sebab Allah memberikan jalan yang sedemikian....cukup berliku lah dalam menerima hidayahNya untuk menutup aurat dengan syar'i. Mungkin salah satu implikasinya adalah bisa menjadi pelajaran yang in syaa Allah dapat diambil hikmahnya untuk saya sendiri dan teman-teman muslimah saya yang lain^^ Mohon diluruskan bila ada pandangan dan kata-kata saya yang bersifat sesat dan menyesatkan hehe. 

You'll never know until you try. Selamat berjilbab (dengan syar'i), teman-teman ^_^9

-Syaninta
Unknown
Add Comment
Friday, May 31, 2013
  • Tweet
  • Share
  • Share
  • Share
  • Share

About Admin Lycoris

This is dummy text. It is not meant to be read. Accordingly, it is difficult to figure out when to end it. But then, this is dummy text. It is not meant to be read. Period.

Related Posts

Post a Comment

Total Tayangan Laman

  • …

  • …

Weekly Posts

  • A Little Hi
    A Little Hi
    I just bumped into this oldie bloggie of mine, sneaked a peek to the profile and was like, well hello there my husband.............. And th...
  • My Heroes, My Home (Part 1)
    My Heroes, My Home (Part 1)
    "Home is where your heart is." -Anonymous --- Di saat saya seharusnya sedang mengepel teras rumah, entah mengapa saya mal...
  • Antara Kecintaan dan Inspirasi
    Assalaamu'alaykum wa rahmatullaah wa barakaatuh . Alhamdulillaah , senang sekali bisa kembali bercengkrama seorang diri di Blogger ...
  • Menuju Bulan Keempat
    Menuju Bulan Keempat
    Sudah 10 bulan berlalu sejak terakhir kali saya melabil di blog ini. Time sure flies~ Tampilan posting Blogger juga agak berubah. Jadi lebi...
  • Andante (1)
    Genre: Romance. Angst. Family.  --- Chapter 1: Little Lady  --- Ini merupakan sebuah rahasia kecil. Hanya Tuhan, aku, dan p...
  • Special Thanks (at the end of the special year)
    Special Thanks (at the end of the special year)
    Sebenarnya...saya berterima kasih untuk semua orang yang terlibat dalam kehidupan saya tapi beberapa ucapan terima kasih berikut ini khusus...
  • Rindu (Last Part)
    Rindu (Last Part)
    Dahulu kamu serius, kamu rengkuh erat dalam kognisimu  Seolah-olah tiada mahkota lain ranumi lapang pandang Kamu verbalisasikan setia...
  • "Aventure"
    "Aventure"
    AllĂ´ para bloggers, comment allez-vous ? Pada kesempatan yang berbahagia ini saya ingin bercerita tentang pengalaman pertama saya menghadi...
  • On My Way
    --- I wasn't there the moment you first learned to breathe But I'm on my way, on my way -On My Way, by Boyce Avenue ...
  • Step by Step: A Rocky Road to Hijab Syar'i (Part 1 of 2)
    Jilbab syar'i hanya untuk para "akhwat shalihah" dan aktivis saja? Yang berjilbab syar'i berarti aktivis Rohis atau semac...

Contact

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Copyright © 2014 Buried Treasures All Right Reserved
Created by Arlina Design