Jilbab syar'i hanya untuk para "akhwat shalihah" dan aktivis saja? Yang berjilbab syar'i berarti aktivis Rohis atau semacam kader PKS? Yang berjilbab syar'i biasanya lahir dari keluarga aktivis Rohis? Sebelum Anda menyetujui berbagai stereotype terkait dengan jilbab syar'i, yuk simak sejarah(?) berjilbab seorang perempuan (baca: saya XP) yang akan saya ceritakan dengan panjang lebar dalam postingan kali ini:) Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga bermanfaat.
Sejujurnya hingga saat ini saya tidak merasa tergolong dalam pemakai jilbab yang puanjang dan selalu memakai gamis karena pada kenyataannya memang tidak demikian. Kalau saya, yang penting tidak transparan dan menutup dada (jika ternyata ada yang kurang mohon diingatkan ya^^). Setahu saya, aurat wanita adalah seluruh bagian tubuh kecuali muka dan telapak tangan; sementara jilbab yang syar'i adalah jilbab yang menutup dada, tidak berpunuk unta (yang menonjolkan kunciran atau sanggulan rambut), dan tidak transparan. Jadi (maaf) bagi yang masih suka pakai kerudung paris tanpa didobel, coba deh dilihat baik-baik--sekadar mengingatkan--itu tembus cahaya banget loh hiks leher dan telinganya jadi kelihatan:( Yang nggak pakai ciput, dikuncir, dan langsung dikerudungin paris tanpa didobel juga kelihatan banget kuncirannya. Hehe maaf jika terkesan menggurui, ingin mengingatkan saja.
Saya sendiri juga sebenarnya bukan jilbaber yang langsung berjilbab dengan syar'i setelah memiliki keinginan untuk berjilbab. Saya semakin merasakan bahwa proses berjilbabnya saya benar-benar sangat bertahap, dari nol sampai satu, dua, tiga, dst...step by step banget lah pokoknya. Saya bukan anak perempuan yang terlahir dalam keluarga "ikhwan-akhwat" yang anak perempuannya sejak bayi sudah dipakaikan jilbab. Saya telah menghabiskan kurang lebih 12 tahun dari usia saya tanpa berjilbab:")
Warning: Jika Anda adalah orang yang baru mengenal saya di masa SMA atau kuliah, mungkin Anda akan sedikit terkejut, tidak percaya, atau terpana *cuih* begitu membaca kisah perjilbaban saya yang bermula dari masa lalu saya di bangku Sekolah Dasar berikut. Mohon maaf bila ada kata-kata yang dirasa terkesan bragging atau tidak berkenan di hati; in shaa Allah saya hanya mencoba untuk bercerita apa adanya sesuai dengan pengalaman nyata saya yang masih tersimpan dalam memory storage saya hingga saat ini.
SD - Mama saya sudah mulai berjilbab sejak saya bayi kalau tidak salah. Saat saya SD Mama belum memberi tahu saya untuk berjilbab. Mama hanya strict pada solat lima waktu dan pemakaian celana panjang. Yap, Mama selalu menyuruh saya memakai celana panjang jika bepergian, bahkan ke warung dekat rumah sekalipun. Saya masih ingat, waktu itu saya suka bete sendiri (maklum masih bocah banget), memang kenapa kalau pakai celana pendek, toh sepupu perempuan saya yang sebaya juga kalau ke mana-mana pakai celana pendek dan tidak dimarahi orang tuanya. Tapi kalau sekarang saya ingat-ingat lagi jadi malu sendiri, ya iyalah bahaya banget keluyuran pakai celana pendek-_-
Jadi selama saya di bangku Sekolah Dasar pun saya sama sekali tidak paham bahwa berjilbab adalah kewajiban. Saat itu pun tidak ada teman saya yang berjilbab dan saya berpikir bahwa jilbab lebih pantas dikenakan saat sudah dewasa. Kalaupun saya akan berjilbab, mungkin waktu saya kuliah, demikian yang saya pikirkan saat masih SD. Malah dengan sedemikian poyosnya saya beranggapan bahwa Ibu-ibu yang berjilbab berarti orang-orang yang dijamin pasti masuk surga. Tapi memang waktu zaman saya SD perempuan yang berjilbab hanya sedikit--tidak sebanyak sekarang sih, jadi memang agak kekurangan contoh juga.
SMP - Saat menjadi siswa baru SMP saya masih belum berjilbab dan sama sekali tidak kepikiran untuk berjilbab. Waktu kelas 1 SMP hanya ada satu orang yang berjilbab di kelas saya. Namun pada suatu hari, pasca pertengahan semester kelas 1 SMP--saat itu kedua orang tua saya sedang naik haji--saya sedang duduk bengong hoh plong di rumah dan teteh saya memberi tahu saya bahwa Kakak sepupu saya yang saat itu sudah cukup lama tinggal di rumah saya akan cau bubye. Lalu beberapa detik kemudian setelah bengong lagi, entah mengapa saya seakan disambar sesuatu dan saya malah berucap, "Teh, Kakak mau pakai jilbab."
Tijel kan? Aneh lah, iya aneh. Sampai detik ini pun saya juga masih belum mengerti kenapa kronologis keinginan berjilbab saya timbul di saat yang super random dan tidak berkaitan dengan the current sikon seperti itu-_- Tapi memang beberapa minggu kemudian saat Papa-Mama saya sampai di Indonesia Mama berkata bahwa Papa saat di Mekkah memang sempat nyeletuk, "Ma, Papa pingin deh Kakak berjilbab" gitu uwaw :3
Tapi tentu saja, waktu itu saya masih pakai jilbab bergo yang hanya sampai leher. Ya tahulah gimana gaya berjilbab anak SMP jaman dulu(?)~ Itupun juga saya hanya pakai jilbab saat ke sekolah. Jadi begini nih ceritanya; hari pertama saya berjilbab, di hari sekolah, saya masuk kelas dan saya lupa reaksi teman-teman seperti apa--biasa saja deh sepertinya, tapi yang paling saya ingat persis adalah komentar dari seorang teman perempuan yang sekelas dengan saya:
Dia: "Alvi pake jilbab?"
Alvi: "Iya."
Dia: *menoleh ke teman yang lain, lalu ke saya lagi* "Cantikkan kalau nggak pake jilbab, ya."
Kalau sekarang sih saat ada teman yang baru berjilbab biasanya pada heboh kasih selamat dan mengucap syukur kan tuh. Tapi saya termasuk bani yang mendapatkan respon yang malah seolah-olah tidak mendukung saya untuk berjilbab. Wajar sih, SMP saya memang didominasi oleh siswa-siswi gavl (tapi alhamdulillah celana dan roknya wajib panjang), yang sudah berjilbab di sekolah pun 1 angkatan jumlahnya di bawah 10 orang. Rohisnya bukan berupa organisasi dakwah melainkan semacam ekstrakurikuler yang pertemuannya hanya satu kali dan hanya semacam dikasih ceramah gitu sama guru agama. Lalu berikutnya yang disebut dengan "Rohis" di SMP itu menjadi ekstrakurikuler marawis saja-____-
Bukan hanya itu, saya melihat perilaku teman-teman SMP saya jadi agak berubah semenjak saya berjilbab, terutama teman-teman laki-laki saya. Dulu sebelum saya berjilbab ada seorang teman sekelas laki-laki yang suka melempar-lempar saya dengan kertas dari belakang setiap saya sedang duduk dengan sangat tidak jelasnya; ada juga beberapa teman sekelas laki-laki yang lain suka caper cengin saya dengan jodoh-jodohin saya dengan teman sekelas yang lain gitu-_-. Tapi sejak saya berjilbab, they began to stop.
"Kakak angkat" saya--perempuan--(tau kan yang waktu jaman-jaman alay SMP, yang kakak kelas perempuan suka menawarkan adik-adik kelas untuk jadi "adik angkat" dan tukar-tukaran buku curhat gitu XD ihik alaynyo-_-)semenjak saya berjilbab jadi tidak pernah menegur saya lagi. Bertukar buku curhat *halah* juga sudah tidak. Tapi karena saat kelas 1 SMP sifat pemalu saya masih extremely akut saya tidak punya keberanian untuk menegur Kakak itu duluan. Saya saat itu hanya jadi berpikir, apa benar mungkin jilbab membuat saya menjadi less beautiful dan kehilangan perhatian dari banyak orang? Singkat cerita, setiap berangkat sekolah, di motor saya sering berpikir, "Oke, nanti pas SMA jilbabnya dilepas aja deh". Haha iya serius, waktu kelas 1 SMP begitulah yang terlintas di benak saya. Kalau pergi les bahasa Ingris dan les piano di luar pun saya masih belum memakai jilbab. Saya masih dilanda dengan keraguan untuk berjilbab secara permanen hanya karena kurang mendapat reinforcement dari lingkungan, dasar anak SMP labil-_-
Bagaimana kelanjutan kisah Syaninta dengan jilbab semenjak saat itu? Oke bersambung dulu ya, capek hehe in shaa Allah akan segera saya post kelanjutannya jika ada waktu luang lagi seperti ini. Semoga sekelumit pengalaman saya yang masih bersambung ini bisa diambil ibrah dan hikmahnya:)
-Syaninta
This is dummy text. It is not meant to be read. Accordingly, it is difficult to figure out when to end it. But then, this is dummy text. It is not meant to be read. Period.