Pada kesempatan blogging kali ini saya akan berbagi cerita--rangkaian sudut pandang dan kesan-kesan pribadi lebih tepatnya--mengenai seorang teman saya. Sebelum lanjut membaca, saya harus memberikan warning terlebih dahulu bahwa memang sudah dari sananya (?) bahasa tulisan dan diksi-diksi saya selalu berlimpahkan majas hiperbola (baca: lebay XP) baik dalam karya sastra maupun tulisan-tulisan sederhana seperti ini; plus, mungkin menimbulkan kesan "terlalu memuji" seseorang. Jadi bagi Anda yang alergi terhadap seni hiperbolisme...punten, saya sarankan sebaiknya segera berpindah mencari kebaikan di tempat lain, hehe.
In shaa Allah saya tidak ada maksud tertentu selain ingin mencoba menebarkan kebaikan melalui pemaparan hal-hal positif yang dikaruniai Allah Swt. melalui teman saya yang satu ini dan alhamdulillah saya sudah mendapatkan izin resmi langsung dari orangnya sendiri hehe. Mungkin Anda akan menganggap bahwa penilaian saya terhadapnya terlampau subjektif atau semacamnya. Namun sejujurnya dia ini memang teman saya yang dapat dikatakan sama sekali tidak pernah meninggalkan kesan buruk di mata saya. Ia adalah sosok inspiratif yang mampu membuat siapapun merasa beruntung dan bahkan bangga karena diperkenankan untuk mengenal dan berteman dengannya, I suppose.
Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Saya pertama kali mengenalnya pada tahun 2009; kami sekelas di bangku kelas 1 SMA. Kesan pertama saya terhadap dia...saya agak lupa, paling tidak jauh-jauh dari pikiran, "pinter banget nih orang", karena hal pertama yang saya coba persepsikan ketika pertama kali mengenal semua orang--yang sebaya dengan saya tentunya--di dunia akademis adalah selalu perihal estimasi intelektual dan inteligensi mereka. In his case, kalau tidak salah saya langsung dapat berkesimpulan, "gee, he really is intelligent" ketika seringkali melihat teman-teman sekelas mengerubunginya untuk minta diajari dan dari informasi dari seorang teman yang lain mengenai peringkatnya yang tinggi dalam hasil tes akademik masuk SMA kami.
Saya memang bukan termasuk teman dekatnya, saya bahkan mungkin pada dasarnya tidak benar-benar memahami dia, namun saya berani mengatakan bahwa ia adalah orang yang sangat baik dan selalu bersungguh-sungguh dalam segala macam hal yang hendak ia perjuangkan. Ya, teman yang sangat baik dan dipenuhi dengan variansi kebaikan yang banyak menginspirasi dan memotivasi saya.
Saya masih ingat dulu ia pernah mengatakan bahwa ia ingin berkuliah di SITH ITB (kalau tidak salah) karena preferensinya terhadap biologi. Saya juga masih ingat bahwa ia termasuk dalam segelintir orang-orang di kelas saya yang mendapat nilai ulangan harian fisika yang cemerlang. Oke maaf, lagi-lagi saya malah membicarakan keunggulan akademisnya-_- Maaf ya, pengetahuan saya tentang dia memang tidak jauh-jauh dari segi akademisnya karena interaksi saya dengannya sebagian besar memang hanya karena sebatas ada kepentingan akademis, hehe.
Saya ingat pernah satu kelompok geografi dengannya. Waktu itu ada tugas membuat presentasi geografi berkelompok dan saya kira tadinya kami semua sepakat akan membagi-bagi tugas, namun ternyata pada malamnya, ia telah mengirim sebuah PPT geografi utuh yang telah lengkap dengan gambar-gambar dan hiasan hingga saya bingung apa yang harus saya tambahkan-_-" Dan itu semua asli, murni PPT buatan dia sendiri. Ciye Syaninta gabut-___- Oh, saya juga pernah sekelompok agama dengannya, waktu itu ada tugas bikin film tentang husnudzan dan shooting nya di rumah saya. Bahkan Mama saya pun punya kesan tersendiri tentang dia loh. Mama saya biasanya mudah lupa tentang teman-teman saya yang pernah main ke rumah, namun tidak tentang dia. Mama kadangkala masih suka bertanya tentang kabarnya. Mama menuturkan bahwa kesan beliau terhadap teman saya itu adalah "wah, ini anak kok sikapnya dewasa banget ya". Beliau juga pernah nyeletuk bahwa kemungkinan di masa depan dia akan jadi sosok terkenal semacam Kak Seto. Iya, Kak Seto Mulyadi, yang awet muda itu, yang ketua Komnas Perlindungan Anak itu looh hehe. Saya pun mengiyakan dengan mantap:3
Salah satu kenangan *ciyeh* saya yang paling berkesan tentang dia di bangku SMA adalah ketika saya dan dia satu kelompok proyek fisika. Satu kelompok empat orang kalau tidak salah. Well, tentu saja dia yang paling responsif dan mudah diajak berdiskusi. Tak peduli sesibuk apapun dia, rasanya tak pernah saya menerima pernyataan semacam "maaf Alvi, nanti-nanti dulu ya" setiap saya menanyakan atau mengajaknya mendiskusikan tugas proyek fisika yang bikin mati ketombe kala itu. Ia rajin, tidak pernah sok-sok woles terhadap tugas, dan memang teman sekelompok yang tidak akan pernah menjadi free rider. Padahal dia laki-laki, langka loh. Biasanya saya paling mudah su'udzan kalau satu kelompok dengan laki-laki, habis, empirically kebanyakan laki-laki suka pada prokrastinasi sih hehe *maaf jadi curhat*. Dia tidak demikian, pemenuhan tanggung jawab dan inisiatifnya super tinggi; FYI, saya mudah respect terhadap orang semacam ini loh hehe.
Kelas 2 dan kelas 3 SMA, saya tidak sekelas lagi dengannya, namun saya agak terkejut di masa-masa penghujung kelas 2--atau masa kenaikan kelas 3 SMA yaa, lupa--ketika saya mendengar bahwa ia ingin lanjut kuliah ke Psikologi. Wah, saingan nih, padahal rasanya waktu kelas 1 dan 2 yang minat Psikologi dan ended up being a science student in high school cuma aku deh-_- Saya sama dia jelas kalah, waktu kelas 1 saja saya tidak pernah berhasil membalap ranking dia. Heran juga, padahal dalam pandangan saya dulu dia anak IPA murni. Tapi alhamdulillah pada akhirnya kami diperkenankan berada dalam ranah yang sama selepas kelulusan SMA.
(Lagi-lagi) saya sekelompok dengannya dalam (kali ini) suatu mata kuliah, dan tentu saja, dia masih yang paling responsif dan inisiatif dalam kelompok. Sudah lama saya tidak banyak bicara dengannya, terlebih karena setelah 2 tahun baru kali ini saya berada dalam satu kelas dengannya lagi; dan sejujurnya saya cukup tercengang juga saat itu karena saya melihat bahwa ia menjadi semakin respectable dalam berbagai hal. Ia masih seperti dulu, eksis dalam aspek akademis maupun non-akademis.
Salah satu dari milyaran sifat buruk saya, saya mudah cemas kala ada anggota kelompok yang seemingly cuek dengan tugasnya dan prokras, begitupun saat itu. Ada satu anggota yang...yaa begitulah pokoknya sampai saya merasa harus mencoret namanya dari kelompok (dan tentu saja saya tetap tidak tega-_-), maka saya pun mencoba mendiskusikan hal itu dengan teman saya yang kece ini mengenai teman sekelompok kami tersebut. Kalau orang lain akan memandang saya berlebihan atau terlalu negative thinking, tapi ia justru sangat "menghargai" kepanikan saya dan memberikan solusi. Ia bahkan sampai menelepon orangnya loh hehe, kalau saya sih mungkin akan sungkan karena saya sudah berkali-kali meng-sms dan mengingatkan orang itu secara langsung :" Terlihat sederhana memang, namun lebih dari cukup untuk menambahkan kesan baik saya terhadapnya.
Terakhir, saat CGTS. Saya ingat waktu itu saya membuat mading kacau kuyu (?) lah pokoknya dan pada akhirnya tidak perlu dipajang, tapi teu nanaon sih, waktu itu juga saya sebenarnya membuatnya semata-mata karena merasa ada kewajiban saja hehe;p *ampun ampun-_-"*. Hanya saja, asli, cuma dia yang mengungkapkan dan paling merasa tidak enak terhadap saya dan menghargai mading abal itu. Saya membuatnya sama sekali bukan untuk dipuji atau minta dihargai, tapi benar-benar pada saat itu saya merasa yang paling memberikan apresiasi tanpa diminta itu, ya, dia. Dan inilah sifat dia yang paling membuat saya merasa sreg dengannya. Yep, he's supremely appreciative. Waktu saya menyerahkan makalah kelompok juga demikian; terlihat bahwa ia selalu menghargai hasil karya orang lain, tak peduli seabal apapun itu.
Namun memasuki semester kedua, saya tidak pernah sekelas dengannya lagi dan saya hanya pernah bertemu dengannya dua kali: saat hendak mengembalikan hutang saya padanya dan kebetulan ketika saya bertemu dengannya di tempat fotocopy. Sebelumnya saya hanya pernah mendengar sedikit kabar kurang baik tentangnya dari teman saya yang lain--yang saya rasa bukan proporsi saya untuk saya ceritakan--di mana pada awalnya saya setengah tidak percaya, merasa heran dan berpikir, "ah masa sih, rasanya dia oke-oke aja", sampai pada akhirnya realita membuktikan apa adanya. Namun saya tetap belum melakukan apapun karena masih berpikir bahwa cepat atau lambat saya dan ia in shaa Allah akan bertemu lagi. Ada rentang waktu yang cukup panjang semenjak saat itu hingga kemarin saya memberanikan diri untuk menanyakan kabarnya via Whatsapp, walau saya sempat ragu apa akan mendapat respons karena teman-teman yang lain konon sulit sekali untuk mengontaknya.
Ternyata alhamdulillah, he gave me a reply on the instant dan saya sangat sangat sangat gembira sekaligus tidak menyangka ia mau terbuka kepada saya. Sayangnya, kegembiraan itu hanya berlangsung sekejap mata saat ia mengatakan bahwa ia akan pindah kampus. Aneh, saya juga tidak tahu mengapa, namun saya spontan langsung menangis saat ia menyatakannya. Saya merasa kehilangan. Curhat sedikit, all this time laki-laki yang pernah membuat saya menangis hanya Papa, Kakek (waktu masih kecil bet), dan teman laki-laki yang saya memang ada feeling sama dia hehe tapi baru kali ini saya menangis karena seorang teman laki-laki yang pure saya pandang sebagai seorang teman tanpa ada virus-virus aneh *ehem*. It's like, seriously peculiar.
Kemudian saya berkontemplasi hingga saya menyadari, berbagai kebaikannya itulah yang membuat saya merasa kehilangan. Mungkin dalam alam bawah sadar saya pun saya merasa tidak akan ada lagi seorang teman seperti dia. That's why saya sebagai orang luar yang tidak tahu apa-apa berpendapat, rasanya hampir tak ada hal yang pantas untuk menurunkan optimismenya. Yah, Allah dan dia sendiri yang lebih tahu. Allah memperkenankan dia menjadi sosok yang luar biasa dan sedemikian berkesan di hati banyak orang. I mean, everybody loves him. Ia telah menjadi "manusia wajib" bagi teman-temannya--semuanya; dapat dilihat dari betapa teman-teman semua merasa kehilangan saat ia tak lagi berada di antara mereka dan tetap mengharapkan kehadirannya. Kalau saya sih, seandainya menghilang juga paling hanya satu-dua orang yang menanyakan dan merasa kurang lengkap (tapi saya juga sadar mengapa hehe, wajar ko). Dan ia, ya, luar biasa. Sungguh membuktikan bahwa tak ada orang bisa untuk tidak respect dan memandangnya sebagai teman yang pantas untuk dirindukan sepenuhnya.
Yang jelas, saya masih merasa berutang budi terhadapnya hingga saya merasa do'a pun tak cukup akibat ada anggapan ngaco dalam benak saya seperti "kalau do'a sih semua orang juga bisa, sementara dia telah mengajarkan banyak kebaikan untuk aku yang tidak semua orang bisa memberikannya". Apalagi sekadar memberikan kata-kata mainstream semacam, "semangat ya", tentulah sama sekali tidak cukup. Saya hanya bisa ikut senang karena ia mengabarkan bahwa kondisinya sudah lebih baik dan ia telah menemukan bingkai kebahagiaan dan cita-cita baru. Ia masih istiqomah untuk bersyukur dan percaya kepada Allah Swt Yang Maha Adil. Luar biasa, bukan? Tidak semua orang bisa bangkit dan tetap menjadi sosok yang inspiratif, juga tak sedikitpun menghilangkan kekaguman teman-teman padanya setelah mengalami kondisi yang sedemikian sulit. Saya percaya bahwa ia masihlah ia yang ulet, bertanggung jawab, dan bersungguh-sungguh dalam perjuangan segala hal, terutama dalam hal yang memang ia sukai.
Sekali lagi, ia adalah seorang teman yang baik, sementara Allah menyukai serta bersama dengan orang-orang yang baik. Allah tak akan luput dalam melindunginya, mengingat realita bahwa ia adalah orang baik dan in shaa Allah senantiasa didekap dalam jalan kebaikan di manapun pada akhirnya ia harus berada. Semoga semuanya dan saya sendiri bisa mengambil semua hal-hal yang positif dari teman saya yang satu ini.
Dari seorang teman, untuk seorang teman.
This is dummy text. It is not meant to be read. Accordingly, it is difficult to figure out when to end it. But then, this is dummy text. It is not meant to be read. Period.